Ngopi Yok! Jadi Gaya Hidup Masyarakat Pontianak
Kopi Tradisional dan Modern © kompasiana.com

Aroma biji kopi menyengat lubang hidung, tatkala duduk di warung kopi. Terlihat gerombolan pemuda pemudi yang kala itu berbincang seraya menikmati kopi dan roti. Mereka tampak begitu hangat satu sama lain. Sepertinya, warung kopi memang menjadi tempat sederhana namun menyenangkan. Pontianak adalah kota yang dibanjiri Warung Kopi. Hampir disetiap sudut kota, warung kopi menjadi pemandangan yang akrab. Mulai dari warung kopi yang menyediakan kopi tradisional hingga kopi modern memiliki peminatnya masing-masing.

Penikmat kopi kini beragam, mulai dari pemulung hingga para pejabat teras, tak hanya laki-laki namun juga perempuan, tua dan muda berbaur. Tidak ada sekat dalam hal siapa peminat kopi. Ini membuktikan bahwa warung kopi mempunyai potensi kultural yang dapat menggiring masyarakat ke arah pembauran sosial. Ini tidak lepas dari salah satu manfaat warung kopi yaitu sebagai tempat menemukan ide dan gagasan. Bahkan, bagi para penikmat kopi, warung kopi adalah sumber informasi dan inspirasi. Lebih jauh lagi, warung kopi dapat membentuk aktualisasi dalam berbagai sektor seperti ekonomi dan sosial.

Pada awalnya ngopi hanyalah aktivitas mengisi waktu luang dan tempat untuk istirahat dari kepenatan. Namun kebiasaan ngopi telah melahirkan sebuah subkultur baru, dan berkembang menjadi gaya hidup. Bagi kalangan tertentu menikmati kopi bukan hanya bagaimana merasakan sensasi manis dan pahit, tetapi bagaimana ngopi dapat menyertai aktifitas yang akan berdampak lebih luas. Misalnya saja pengusaha muda yang ngopi sembari menjalankan aktifitas dengan relasi bisnisnya.

Peta wilayah Gajah Mada Pontianak (© google Maps)
Peta wilayah Gajah Mada Pontianak (© google Maps)

Ada banyak warung kopi di Pontianak yang berhasil merenggut hati pecinta kopi dengan ciri khas rasa kopi yang ditawarkan. Wk. Asiang menjadi salah satu kedai kopi fenomenal di Kota Pontianak. Kenikmatan Kopi yang disajikan sendiri oleh pemilik kedai yang bernama Asiang. Pria bertato ini menghidangkan kopi sejak 1958 dengan bertelanjang dada. Kesibukan Asiang memang sudah dimulai sejak warung kopi itu dibuka sekitar pukul 03.00 hingga 18.00 WIB. Kesibukan paling tinggi yang dialaminya tentu saja sejak pukul 06.00 hingga sekitar pukul 11.00 WIB.

wk. Asiang

Kopi hitam dan kopi susu hangat ini disajikan dalam cangkir keramik mungil. Puluhan cangkir keramik cokelat lengkap dengan cawan kecil bergambar hiasan bunga monokrom bergaya Indo-China ini menjadi salah satu ciri khasnya. Seduhan kopi Asiang mungkin terlihat tak berbeda dengan kopi lainnya. Namun Asiang memiliki teknik seduhannya sendiri.

Bagi pecinta kopi, menikmati kopi dengan racikan sendiri di rumah atau di tempat kerja akan terasa berbeda ketika mereka menikmati kopi di warung kopi. Entah karena racikannya atau suasananya. Faktor fenomena ini adalah bagaimana situasi dan kondisi dalam menikmati kopi mempengaruhi rasa dalam ngopi itu sendiri.

Berangkat dari realitas itulah, kebiasaan ngopi di warung kopi bagi masyarakat Pontianak yang tidak bisa dipandang sebelah mata. Akan tetapi, lebih dari itu ngopi menjadi sebuah gaya hidup yang seiring waktu menjadi kebutuhan yang memiliki porsinya tersendiri bagi masyarakat Pontianak dan para pecinta kopi khususnya.


Sumber: (goodnewsfromindonesia.id)

Pilih Bangga Bangga 67%
Pilih Sedih Sedih 0%
Pilih Senang Senang 33%
Pilih Tak Peduli Tak Peduli 0%
Pilih Terinspirasi Terinspirasi 0%
Pilih Terpukau Terpukau 0%

Bagaimana menurutmu kawan?

Berikan komentarmu

ARTIKEL TERKAIT
8 bulan yang lalu
8 bulan yang lalu