Tradisi Saprahan Kota Pontianak
Makan Saprahan di Alun-Alun Kapuas © Photo by Denah Rumah

Indonesia adalah negara dengan memiliki ragam budaya, bahasa serta makanan khas nusantaranya. Masing-masing daerah mempunyai keistimewaan tersendiri. Hal itulah yang mampu menarik minat para wisatawan lokal maupun macanegara untuk berkunjung ke daerah-daerah di Indonesia. Simbol yang ada di tiap-tiap daerah merupakan bentuk keunikkan (khas) atau ciri yang membedakan dari daerah lainnya.

Selain budaya, bahasa, dan adat istiadatnya, Indonesia juga terkenal akan rempah-rempahnya yang biasa digunakan sebagai bahan atau bumbu masakan tradisional. Beberapa rempah-rempah tersebut jarang ditemukan di luar negara Indonesia, dan itulah salah satu alasan makanan di Indonesia sangat luar biasa nikmatnya dan membuat siapa saja ingin mencicipi rasa dari makanan tersebut.

Salah satu daerah yang juga terkenal akan tradisi dan kuliner tradisional nan lezat serta kaya rasa adalah Kota Pontianak. Kota Pontianak merupakann ibu kota Provinsi Kalimantan Barat sekaligus sebagai salah satu kota di Indonesia yang di lintasi garis khatulistiwa. Karena posisinya yang demikian, maka kota ini juga dikenal dengan sebutan “Bumi Khatulistiwa”. Letakknya yang dilintasi oleh garis khatulistiwa menjadikan kota Pontianak ini sebagai salah satu tempat tujuan wisata baik domestik maupun mancanegara.

Dan yang tak kalah menariknya lagi adalah wisata kuliner khas Pontianak, Kalimantan Barat. Kultur yang berbeda antara Tionghoa, Dayak dan Melayu di Pontianak memberi warna yang berbeda pula terhadap aneka kulinernya maka dari itu, Pontianak memang terkenal akan makanan khasnya yang beragam. Salah satu tradisi makan yang terus dilestarikan hingga saat ini adalah Saprahan.

Festival Saprahan Pontianak | Foto : Tribun Pontianak
Festival Saprahan Pontianak | Foto : Tribun Pontianak

Saprahan dalam adat istiadat melayu berasal dari kata "saprah" yang artinya berhampar, yakni budaya makan bersama dengan cara duduk lesehan atau bersila di atas lantai dengan bentangan memanjang. Saprahan merupakan sebuah tradisi adat Melayu berupa jamuan makan bersama yang turut melibatkan banyak orang. Uniknya adalah cara duduk di dalam satu barisan, cara makan, cara menghidangkan makanan, dan menu makanan ada aturannya walaupun tidak dituangkan dalam bentuk tulisan namun sudah membudaya bagi masyarakat. Makanan yang hendak disajikan juga harus terdiri dari berbagai jenis kuliner khas Melayu. Di Kalimantan Barat, tradisi saprahan ini lazim bagi masyarakat Melayu (Pontianak, Mempawah dan Sambas).

Menu saprahan di Pontianak biasanya berupa nasi putih atau nasi kebuli, semur daging, sayur dalcah, sayur pacri nenas atau terong, selada, acar telur, sambal bawang, air serbat dan kue tradisional khas Pontianak.

Satu kelompok saprahan terdiri dari lima sampai enam orang, yang duduk melingkar atau memanjang sehingga dalam makan saprahan diperlukan sikap sopan santun dan kekeluargaan yang sangat kental. Dalam acara saprahan di Istana Kadriah Pontianak, semua hidangan makanan disusun secara teratur di atas kain saprah yang berwarna putih atau kuning emas.

Selain itu, pada tradisi saprahan ini, pria dan wanita duduk terpisah. Pakaian dalam tradisi ini pun ditentukan. Kaum pria diwajibkan memakai pakaian Telok Belanga dan kaum wanita memakai Baju Kurung.

Pilih Bangga Bangga 0%
Pilih Sedih Sedih 0%
Pilih Senang Senang 0%
Pilih Tak Peduli Tak Peduli 0%
Pilih Terinspirasi Terinspirasi 0%
Pilih Terpukau Terpukau 0%

Bagaimana menurutmu kawan?

Berikan komentarmu

ARTIKEL TERKAIT
satu bulan yang lalu
satu bulan yang lalu